Pengabdi Negara

Oleh: drg. Febriana Kusuma Dian Mayasari

Petugas Pascarehabilitasi Badan Narkotika Nasional

Abdi Negara itu dinamakan ASN. Dan ya, saya adalah seorang Aparatur Sipil Negara atau yang biasa disebut ASN. Definisi ASN sesuai Undang-Undang Nomor 5 tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara, adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah yang bekerja pada instansi pemerintah, mempunyai tugas dalam suatu jabatan tertentu dan mendapatkan gaji dan hak lainnya yang diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan. Bagi saya menjadi ASN itu hebat dan keren. Hebat karena menjadi ASN berarti sudah dikontrak oleh rakyat dan negara untuk mengabdikan diri, mengerahkan segala kompetensi yang dimiliki, serta selalu mengutamakan kepentingan rakyat dan negara diatas kepentingan pribadi. Keren karena tidak semua orang bisa dan sanggup menjadi ASN. Dari proses seleksi yang bertahap dan sulit, serta mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi amanah dari seluruh rakyat berdasarkan tugas dan fungsinya. Hal tersebutlah yang mendorong saya untuk menjadi seorang ASN.

Saya adalah seorang dokter gigi yang lulus seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan diterima sebagai ASN di Badan Narkotika Nasional. Bekerja di Badan Narkotika Nasional tidaklah semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Bekerja di BNN berarti telah memasuki dunia yang sebelumnya hanya saya ketahui melalui buku dan literatur, yaitu dunia adiksi. Terdapat banyak tantangan yang dihadapi terkait dengan tugas tanggung jawab saya, antara lain adalah perlunya peningkatan pengetahuan terkait adiksi dan rehabilitasi ketergantungan narkotika. Adiksi menurut American Psychological Assosiation (APA, 2020) merupakan kelainan kronis yang berkaitan dengan faktor biologis, psikologis, sosial dan lingkungan yang mempengaruhi perkembangan dan pemeliharaannya. Adiksi narkoba atau kecanduan narkoba adalah penyakit kronis yang ditandai dengan pencarian dan penggunaan narkoba yang bersifat kompulsif, atau sulit dikendalikan, meskipun menimbulkan konsekuensi yang merugikan (NIDA, 2018). Orang dengan adiksi narkoba terjadi perubahan pada otak, sehingga menyebabkan perubahan perilakunya dan bersifat kambuhan. Oleh karena itu orang dengan ketergantungan narkoba membutuhkan bantuan untuk dapat lepas dari jeratan narkoba, melalui kegiatan yang dinamakan rehabilitasi. Rehabilitasi bagi pecandu narkoba harus terus dilakukan dan disesuaikan berdasarkan bagaimana respon pasien, agar mereka dapat pulih dari ketergantungannya. Pemulihan seorang pecandu narkoba merupkan perjalanan panjang dan dapat berlangsung seumur hidup.

Pada tugas pertama, saya ditempatkan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Terapi dan Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional, atau yang sekarang berubah nomenklatur sebagai Balai Besar Rehabilitasi BNN. Saya mempunyai tugas tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesehatan terkait gigi dan mulut bagi klien yang merupakan mantan pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba. Mulut merupakan pintu masuk (entry point) ke dalam tubuh, sehingga dengan meningkatkan kesehatan gigi dan mulutnya, maka diharapkan akan meningkatkan derajat kesehatan individu secara keseluruhan. Hampir sebagian besar klien yang sedang menjalani rehabilitasi ketergantungan narkoba di Balai Besar Rehabilitasi BNN mempunyai penyakit penyerta yang merupakan dampak buruk penyalahgunaan narkoba, antara lain  TBC, HIV/AIDS, Hepatitis B dan C. Penyakit tersebut merupakan penyakit menular dan menjadi risiko kerja bagi kami yang bertugas. Namun hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi kami untuk menunaikan kewajiban kami secara profesional. Selalu mematuhi Standard Prosedur Operasional (SPO) dalam melakukan setiap tindakan layanan serta selalu meingkatkan pengetahuan dan keterampilan merupakan kunci pencegahan terjadinya risiko kerja.

Tantangan lain yang harus dihadapi adalah empati. Perawatan kesehatan dan rehabilitasi, harus diberikan dengan sikap empati. Empati adalah kemampuan untuk dapat menciptakan keinginan untuk menolong orang lain, mengalami emosi yang sama dengan emosi orang lain, mengetahui secara emosional apa yang orang lain rasakan dan pikirkan. Empati dapat diperoleh jika kita menempatkan diri di posisi orang lain. Tidak mudah untuk dapat menghadirkan rasa empati kepada pecandu narkoba, perlu pemahaman pengetahuan yang luas terkait adiksi dan dibutuhkan latihan terus menerus. Pelaksanaan tugas yang diikuti dengan empati akan menimbulkan kepercayaan dalam diri pecandu narkotika untuk menerima rawatan yang akan kita berikan, sehingga keberhasilan rawatan dapat meningkat.

Sejak tahun 2013, saya mendapat promosi untuk menduduki jabatan sebagai Kepala Seksi di Direktorat Pascarehabilitasi, Deputi Bidang Rehabilitasi BNN. Tugas dan fungsi saya adalah menyusun strategi kebijakan, program dan kegiatan pascarehabilitasi bagi pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba, termasuk kegiatan perencanaan dan penganggaran, penyusunan pedoman dan standard layanan serta monitoring dan evaluasi program secara nasional. Di Direktorat Pascarehabilitasi inilah outcome dari program rehabilitasi dapat diukur, karena merupakan pintu terakhir sebelum mantan pecandu narkoba benar-benar kembali ke masyarakat. Mengemban amanah di Direktorat Pascarehabilitasi mempunyai tantangan yang berbeda dibandingkan saat menjadi dokter gigi fungsional. Perubahan kerja dari tugas fungsional ke tugas struktural mengharuskan saya untuk dapat segera beradaptasi dan belajar secara cepat mengenai manajemen administratif.

Pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba mempunyai kendala besar dalam pemulihannya terkait stigma di masyarakat dan kerentanan mereka untuk kambuh. Kambuh adalah kembali menggunakan narkoba. Padahal di satu sisi, kambuh merupakan salah satu siklus dari tahapan perubahan di bidang adiksi. Sehingga mereka terkendala untuk mempertahankan kepulihannya serta sulit untuk kembali berintegrasi di keluarga dan masyarakat. Bahkan kebanyakan dari mereka tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan dan kembali masuk ke bangku sekolah. Berdasarkan kondisi tersebut, maka kami di Direktorat Pascarehabilitasi bertugas untuk menjembatani kendala-kendala tersebut. Kami mendorong pecandu narkotika untuk dapat mengenali dan memberdayakan potensi diri berdasarkan sumber daya yang dimiliki, baik internal maupun eksternal untuk dapat hidup produktif, berfungsi sosial dan tidak kambuh. Kami berupaya untuk membekali pecandu narkoba dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan terkait pencegahan kekambuhan, kemampuan untuk meningkatkan efikasi diri dan keterampilan vokasional. Program kegiatan yang diberikan tentunya harus sesuai dengan kondisi masing-masing klien, agar dapat bermanfaat untuk klien. Membuat program kegiatan yang baik dan dapat bermanfaat tentunya harus disusun berdasarkan kajian ilmiah berbasis bukti, mempunyai pengetahuan yang luas dan holistik serta harus selalu berfikir secara kritis inovatif.

BNN dalam menjalankan tugasnya sebagai penyusun dan perumus kebijakan nasional di bidang pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, dan prekursor serta bahan adiktif lainnya kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alcohol, tentunya tidak dapat bekerja sendiri. Perlu koordinasi dan kolaborasi dengan instansi pemerintah lainnya, swasta dan masyarakat. Oleh karena itu, sebagai ASN harus mampu melakukan kegiatan diplomasi, koordinasi dan persuasi. Kompetensi tersebut tentunya didapatkan melalui proses pembelajaran dan pelatihan yang dilakukan secara terus menerus.

Dalam kondisi pandemi Covid-19 yang melanda secara global termasuk Indonesia, menyabakan perubahan dalam seluruh aspek kehidupan termasuk pula dalam mejalankan tugas tanggung jawab sehari-hari sebagai ASN. Banyak kebijakan yang direvisi sesuai dengan kondisi pandemi. Program kegiatan yang telah direncanakan pada tahun sebelumnya harus segara dilakukan perbaikan dengan adaptasi dengan kehidupan new normal. Penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan dengan menerapkan tata laksana Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) Covid-19 sangat penting dilakukan untuk menjaga keberlajutan layanan rehabilitasi dan pascarehabilitasi, sehingga kegiatan yang dilakukan tetap aman dan terjaga kualitasnya. Pelaksanaan sosialisasi yang berkelanjutan dan pelaksanaan monitoring secara regular harus dilakukan sebagai upaya pengendalian program.

Aparatur Sipil Negara (ASN) pada dasarnya adalah pelayan masyarakat yang dalam mejalankan tugasnya telah disumpah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing, dimana hasil kinerjanya akan dipertanggungjawabkan secara hukum dan moral kepada rakyat dan negara Indonesia. ASN dituntut untuk dapat menjalankan tugasnya secara profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Jika seluruh ASN di Negara Kesatuan Republik Indonesia menyadari akan kedudukan, tugas dan fungsinya sebagai ASN, tentu hal tersebut menjadi potensi besar bagi negara ini menjadi maju dan sejahtera. ASN mempunyai kewenangan tertentu untuk dapat menggerakkan sumber daya yang tersedia di NKRI, berupa sumber daya alam dan sumber daya manusia, baik dalam sektor pemerintah maupun swasta, melalui berbagai kebijakan, program dan kegiatan yang bertujuan untuk membangun bangsa dan negara ini. Integritas dan loyalitas kepada bangsa dan negara menjadi faktor penting bagi ASN dalam menjalankan tugas fungsinya.

Selain itu sebagai insan yang beriman, saya meyakini bahwa bekerja tidak hanya untuk mencari rizky dan tempat aktualisasi diri semata, namun menjadi suatu kegiatan yang bernilai ibadah, jika dilakukan ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah dan jika dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Segala tugas nantinya akan dipertanggung jawabkan tidak hanya kepada manusia tetap juga harus dipertanggung jawabkan kepada Allah, sesuai dengan firman Allah: “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (Al Muddatstsir: 38). Dan juga sesuai dengan hadits nabi dari Siti Aisyah, nabi bersabda: Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan hendaklah dilakukan secara itqon (profesional) (HR. Baihaqi). Oleh karena itu, saya sebagai ASN mengajak ASN lainnya diseluruh Indonesia untuk dapat memberikan pelayanan terhadap rakyat Indonesia secara professional dan berkualitas, serta menjadi media untuk mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia demi kemajuan bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Referensi :

APA. 2020. Addiction. https://www.apa.org/topics/addiction. Diakses pada 10 November 2020.

BNN RI. 2013. Mengenal Adiksi. Humas Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia.

NIDA. 2018. Understanding Drug Use and Addiction. National Institute on Drug Abuse. National Institutes of Health. U.S. Department of Health and Human Services.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun  2014 Tentang Aparatur Sipil Negara.

Total Page Visits: 176 - Today Page Visits: 1