Optimisme Auditor Muda dalam Bayang Political Idolatry dan K-Pop

Oleh : Muhammad Naim

PNS di Inspektorat Daerah Kota Parepare, Sulawesi Selatan

Sekilas Optimisme Kaum Muda

Apa yang membuat kaum muda hari ini optimis menatap masa depan diri, lingkungan dan bangsanya? Pertanyaan ini cukup memaksa kita untuk mempelajari kembali sejarah dan para tokoh bangsa atau peradaban masa lalu. Tidak perlu terlalu jauh, optimisme kaum muda di Indonesia cukup mengingat ketokohan anak-anak muda dalam memperjuangkan kemerdekaan dan ideologi bangsa ini. Masih segar dalam ingatan, peristiwa Rengasdengklok 1945 sekelompok pemuda memberanikan diri menculik Soekarno dan Hatta untuk memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia tanpa tekanan dari Jepang. Keberanian disaat genting seperti masa itu, bukanlah keberanian yang datang tiba-tiba atau karena keterdesakan. Tetapi lebih dari itu, kebenaran yang benar tumbuh dari semangat juang, pengabdian, dan cinta terhadap tanah airnya.

Meski tidak lahir di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, meski di usia kita yang masih belia dibanding dengan usia kemerdekaan bangsa ini, dan meski kita hanya menjadi pembaca sejarah bukan pelaku sejarah tetapi optimisme kaum muda masih tertancap. Apa yang membuat kita optimis? Pertanyaan berulang ini akan dijawab dengan kata-kata Soekarno ‘beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia’. Soekarno punya pengalaman hidup dan bergelut dengan banyak generasi, kaum tua dan kaum muda. Tetapi ia memilih bersandar pada kaum muda untuk menatap perubahan besar.

Sekali lagi, apa yang membuat kaum muda optimis? Jawabnya, karena hari ini kita masih memiliki kepekaan atau kesadaran untuk menuliskan dan membaca ulang sejarah. Dengan ketokohan, keberanian, kekuatan kata-kata (pesan, nasehat) dan kesadaran sendiri untuk menuliskan atau belajar dari sejarah. Baru saja memperingati momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober dan Hari Pahlawan 10 November mengingatkan kaum muda hari ini harus tampil optimis sebagai kekuatan dan modal utama untuk mengawali tindakan, bukan larut, hanyut bahkan kehilangan kesempatan mengambil peran dalam perubahan.

Eksistensi K-Pop dan Idolatry

Kini, kaum muda digempur dengan budaya Westernisasi dan Hallyu (Korean Wave).Kedua budaya berasal dari dua benua berbeda, Westernisasi diwakili oleh Political Idolatry yang menghasilkan ketakutan dan efek dominasi yang akut. Sedangkan Hallyu dengan K-Pop nya menjadikan generasi yang malu dengan budaya negeri sendiri.  

Sekedar memberi apresiasi terhadap optimisme, kita harus belajar dari Pemerintah Korea Selatan yang sangat peduli dengan talenta anak mudanya. Mereka telah merancang masa depan bangsanya meski harus berkorban dan menunggu selama puluhan tahun. Penantian panjang dan tidak menentu membuahkan hasil luar biasa. Generasi pelajar Korea mendapatkan bantuan yang sangat besar dari pemerintahnya untuk menuntut ilmu dan belajar menguasai pasar film-food-fashion serta selera musik global. Upaya itu, membuahkan hasil yang melegakan, generasi baru anak-anak muda Korea mampu menghipnotis generasi muda di banyak belahan dunia untuk mengikuti corak dan gaya hidup yang dibuat sendiri sehingga memberikan kontribusi kekayaan dan penyelamat ekonomi negaranya dari krisis.

Tidak kurang dari 25 nama fandom group K-Pop yang melesat secepat gempuran balistik dengan ledakan yang siap meluluhlantakkan budaya dalam negeri. Dan nyata saja terbukti pengaruhnya menembus Kota Nevada yang telah menetapkan tanggal 25 November sebagai hari K-Pop. Di Indonesia juga telah resmi mengadakan peringatan 100 tahun kedatangan warga Korea di Indonesia.

Dampak yang dimunculkan dari gempuran budaya K-Pop mempengaruhi pembentukan mental generasi muda kita. Kekaguman terhadap budaya K-Pop menghasilkan kebiasaan generasi muda untuk berkembang dengan konstruksi citra, seksualitas, feminitas, maskulinitas dan moralitas yang baru pada masyarakat.

Bagaimana dengan Idolatry/idolatri yang dulunya merupakan pemujaan terhadap benda yang diberhalakan, kebanyakan menghambakan atau memperbudak diri kepada yang dicintainya, dipuja, atau disembah karena mereka yakin akan dapat keberkahan. Namun peradaban manusia yang semakin demokratis malah membalik logika idolatri itu dengan label liberal, bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat.

Presiden AS Abraham Lincoln mendemosntrasikan konsep kedaulatan rakyat (popular sovereignty) yakni pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Adagium vox populi, vox dei, tentu lebih akrab dalam narasi objektif, ‘suara rakyat adalah suara tuhan’ mengisyaratkan suara rakyat harus dihargai karena mewakili hehendak Sang Ilahi. Meskipun dianggap sakral, suara rakyat dipuja hanya pada momen tertentu, pemilihan langsung misalnya. Sekali dalam kurun lima tahun pesta demokrasi berlangsung, saat itulah suara rakyat diposisikan pada kasta tertinggi karena kesaktiannya mampu merubah keadaan. 

Memuja (idolatri) suara rakyat adalah fenomena yang biasa disaat memasuki momentum pemilihan langsung (pilkada, pilgub atau pilpres). Sekedar memberi warna lain dalam membaca fenomena politik ala demokrasi, goresan dalam tulisan ini tidak menyuguhkan label profokatif seperti money politic, black campaign, politik transaksional-kekuasaan, pelacur politik, politik rente, atau istilah kampanye palsu. Tetapi, menghadirkan pandangan lain tentang sisi subjektif elit politik (calon bupati/walikota, gubernur, presiden) yang memuja suara rakyat atau dengan bahasa yang khas ‘menghambakan diri’.

Memikat suara rakyat, silih berganti para elit politik melakukan ‘ritual’ penghambaan dengan membacakan ‘mantra-mantra’, menari-nari di atas altar, menampilkan sisi religius, humanis dan populis untuk berharap suara rakyat dapat mengantarkannya mencapai singgasana. Praktik dalam konteks pemilihan langsung ini merupakan idolatri gaya baru, rakyatlah yang memuja pemimpinnya.

Disayangkan, sikap generasi kita terhadap gempuran kedua budaya ini memilih menerima secara totalitas. Buktinya, kiblat budaya generasi muda kita sedang bergeser dari seni tari ke K-Pop, dari Gatot Kaca ke Avenger. Padahal nilai budaya kita sungguh ekspresif, tari misalnya mengandung ungkapan rasa, sebagai khazanah kultural, estetika, ritme dan potensi simbolik yang sangat mengakar. Sosok pewayangan Gatot Kaca sebagai ikonik kepahlawanan budaya Indonesia seharusnya hadir menjadi spirit optimisme yang tangguh dan siap berhadapan dengan ancaman potensi budaya asing.

Auditor Muda dan Spirit Kepahlawanan

Menghadirkan pahlawan baru buat generasi muda bukan hal yang berlebihan, kita harus berbangga dengan tugas yang diamanahkan sebagai abdi negara karena pengabdian luhur. Meminjam kalimat sakti Buya Syafii Maarif, ‘kerja intelektual adalah pekerjaan seumur hidup, melelahkan dan tak pernah merasa puas’. Demikian dengan ASN, spirit pengabdiannya telah terpatri dan sebagian hidupnya melayani masyarakat tanpa mengenal lelah.

Sebagai seorang ASN yang berprofesi sebagai auditor menjadi kebanggaan tersendiri, seiring tugas berat sebagai pengawal terwujudnya good government dan clean governance terus menyisakan problematika yang kian kompleks, sisi lainnya menjadikan auditor tampil dewasa dan profesional. Bagaimana dengan para auditor muda, diusia yang terbilang belia, dipundaknya sudah ada tanggung jawab besar dan di usia muda gempuran trend K-Pop dan Idolatrysebagai ansicht (pemandangan, visi, ide) budaya dan politik hadir dalam beragam pernikirnya.

Apakah auditor muda mampu mempertahankan optimismenya? Jika ya, sekali lagi bukan hal yang berlebihan jika dalam diri seorang auditor muda ditanamkan harapan untuk mewarisi spirit heroisme para pahlawan bangsa ini. Spirit yang mampu melampaui pengaruh gempuran politik idolatri dan budaya K-Pop sehingga auditor muda sebagai penyambung estafet kepemimpinan bangsa mampu berkontribusi menciptakan pengelolaan pemerintahan bersih dan terbebas dari laku koruptif.  

Total Page Visits: 110 - Today Page Visits: 1