Kontekstual Menggugah Keaktifan Siswa Kelas 1 Sekolah Dasar

Oleh : apt. Lailaturrahmi, M.Farm.

PNS/ Dosen Asisten Ahli Universitas Andalas

Belajar merupakan proses yang dapat dijumpai dengan mudah pada instansi pendidikan formal. Kegiatan belajar dilakukan oleh guru dan siswa yang saling berinteraksi dalam proses belajar mengajar. Kurikulum 2013 yang saat ini dijalankan memiliki perbedaan pengemasan dibandingkan kurikulum sebelumnya. Pada kurikulum 2006 memuat beberapa mata pelajaran yang berdiri sendiri sedangkan pada kurikulum 2013 beberapa mata pelajaran terlebur menjadi satu dalam satu tema. Pada satu tema terdapat empat sub tema kemudian satu sub tema terdapat enam pembelajaran. Setiap pembelajaran dituntaskan dalam waktu satu hari. Perubahan ini ternyata berdampak positif dalam pembelajaran yaitu menjadikan pembelajaran lebih efektif dan efisien. Satu tema memuat beberapa kompetensi dasar dari masing-masing mata pelajaran yang memiliki kesamaan karakter. Komptensi dasar yang telah terhimpun ini kemudian membentuk jaring-jaring untuk disajikan pada satu kali pembelajaran.

Namun proses pembelajaran tidak sedikit memunculkan kendala. Berbagai inovasi dan kreatifitas guru sangat dibutuhkan agar kegiatan belajar lebih bermakna bagi siswa. Beberapa inovasi guru diuntungkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran atau sering disebut dengan istilah RPP. Pada rencana pelaksanaan pembelajaran di dalamnya terdapat kompetensi dasar yang berpedoman pada standar isi sesuai Permendikbud no 21 tahun 2016 kemudian dijabarkan kembali pada Permendikbud no 37 tahun 2018 tentang kompetensi inti dan kompetensi dasar kurikulum 2013 pendidikan dasar dan menengah. Kompetensi dasar memuat indikator pencapaian standar bagi siswa kemudian dapat dikembangkan pada tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa setelah melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Selain memuat standar isi, rencana pembelajaran juga memuat kegiatan pembelajaran. Perlunya kegiatan pembelajaran berperan sebagai rambu-rambu jalannya pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh guru. Kegiatan pembelajaran hendaknya berpedoman pada standar proses yang telah diatur dalam Permendikbud no 22 tahun 2016. Merancang kegiatan pembelajaran agar lebih tersistem dan jelas maka diperlukan metode, model dan pendekatan. Ketiga hal tersebut menjadi alternatif guru agar lebih runtut. Peran metode, model dan pendekatan di sini adalah memanajemen waktu yang dimiliki oleh guru dalam satu hari untuk menyelesaikan satu pembelajaran.

Pembelajaran dalam bentuk tema dapat dijumpai secara langsung pada jenjang sekolah dasar. Hal ini disebabkan pada sekolah dasar diampu oleh guru kelas bukan guru mata pelajaran. Sekolah dasar memiliki enam tingkatan kelas dimulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Setiap jenjang kelas memiliki keunikan masing-masing. Karakteristik siswa kelas 1 dibandingkan tingkat kelas di atasnya tentunya berbeda. Kelas 1 memiliki karakteristik yang lebih menonjol untuk diberikan perhatian yang penuh. Berdasarkan pendapat Jean Piaget pada teori tahap perkembangan anak bahwa usia 7 hingga 11 tahun anak berada dalam tahap operasional konkret. Tahap ini membutuhkan hal-hal yang kongkret dalam proses belajar.

Selain itu, siswa kelas 1 belum memiliki tingkat fokus yang terhitung lama. Siswa kelas 1 biasanya akan mudah tertarik dengan sesuatu yang dibawa atau dicontohkan guru secara langsung. Inovasi dan kreatifitas guru sangat diperlukan agar tercipta pembelajaran yang bermakna. Alternatif yang dapat digunakan adalah mengemas pembelajaran dengan cara melibatkan lingkungan yang tidak jauh dari siswa. Hal ini memiliki point tersendiri untuk mudah diterima oleh nalar siswa kelas 1. Salah satu nya dengan menggunakan pembelajaran yang kontekstual.

Kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan, pengalaman dan sesuai dengan kehidupan nyata akan menumbuhkan keaktifan dalam proses belajar mengajar. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan pembelajaran tidak akan monoton. Konstekstual dapat menciptakan hubungan timbal balik antara siswa dengan guru. Metode Kontekstual pula mengajarkan pada siswa untuk mampu menemukan konsep materi sendiri yang berbekal dari pengalaman sebelumnya.

Materi kelas satu adalah materi pembelajaran yang memuat tentang perkenalan diri, keluarga, benda-benda di sekitar, pengalaman, kegiatan serta lingkungan. Berdasarkan materi tersebut maka pembelajaran kontekstual sangat penting untuk membantu guru dalam penyampaian materi ajar pada siswa. Saat guru hendak menerangkan tentang tema diriku maka guru dapat menjadikan diri siswa sebagai media pembelajaran yang konkret. Siswa diminta menunjukkan bagian-bagian tubuh beserta jumlahnya. Selain itu, siswa juga dapat menceritakan bagaimana cara mereka merawat tubuh sehari-hari. Hal ini tentu membuat pembelajaran lebih mudah dipahami, diterima, bermakna dan melatih siswa untuk berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah.

Pada proses belajar-mengajar dengan cara kontekstual menjadikan semua siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran sehingga keaktifan siswa dalam kelas mudah sekali diciptakan. Selain membantu proses pembelajaran, metode kontekstual ini dapat memudahkan guru dalam melaksanakan penilaian. Pada kurikulum 2013 diharapkan guru mampu melaksanakan penilaian autentik atau sering disebut dengan authentic assessment. Penilaian ini adalah kegiatan menilai proses dan hasil pembelajaran.

Penilaian autentik memiliki tiga ranah penilaian yang meliputi penilaian pengetahuan, sikap dan keterampilan. Pada masing-masing ranah penilaian memiliki instrumen yang berbeda-beda. Ranah pengetahuan dapat menggunakan instrumen tes dan non tes. Instrumen tes misalnya soal pilihan ganda dan uraian, sedangkan penilaian non-tes contohnya yaitu tes lisan, observasi dan wawancara. Instrumen untuk menilai ranah sikap dilakukan dengan jurnal sikap, observasi selama proses pembelajaran, dan penilaian diri. Ranah keterampilan pun memiliki instrumen yang berbeda dengan pengetahuan dan sikap. Instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur keterampilan siswa salah satunya adalah unjuk kerja.

Tujuan pembelajaran dapat tercapai apabila selama proses hingga hasil sesuai dengan indikator pencapaian yang telah dirumuskan. Kegiatan yang sangat penting dilakukan adalah saat terjadi proses pembelajaran. Diperlukan sintaks dari suatu model yang telah dipilih sesuai dengan karakteristik kompetensi dasar yang hendak dimunculkan. Model pembelajaran juga dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang memiliki peran sebagai cara yang dilakukan guru untuk melakukan tugas mengajar. Pembelajaran tidak akan mampu tercapai hingga mendapatkan hasil yang sesuai apabila tidak melibatkan siswa. Penciptaan suasana yang aktif, kreatif dan menyenangkan dapat terwujud dengan student centered. Siswa mampu menjadi pusat pembelajaran dengan melibatkan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya. Hal ini akan membuat siswa tertarik ditambah dengan melibatkan lingkungan nyata siswa agar memudahkan siswa dalam  memahami materi. Apabila siswa telah paham terhadap konsep materi maka guru tinggal melakukan pendalaman materi hingga pencapaian tujuan belajar dengan maksimal.  

Total Page Visits: 432 - Today Page Visits: 1