Ini Karyaku

Oleh: Gabriela Grace,S.E.,M.S.E.,M.App.Ec

Staf di Sekretariat Pengadilan Pajak, Kemenkeu

Suatu situasi di tengah wisuda,,, seorang paman bertanya: Kamu nanti mau melamar kerja dimana Yoyo?? dan Yoyo menjawab belum tahu, om masih mencoba mengirimkan CV kesana kemari. Paman pun menjawab sudah coba ujian jadi PNS aja,, banyak gajinya, aman hidupnya… Seketika itu Yoyo terdiam…

Situasi ini mungkin pernah menghampiri hampir semua mereka yang saat ini menjadi Aparatur Sipil Negara atau ASN. Umumnya, hidup yang aman dengan gaji yang baik menjadi motivasi dasar sebagian besar ASN. Realistis? Tentu saja. Sebagai manusia, kita akan mencari suatu kondisi yang mendukung kehidupan kita dan proses di dalamnya. Namun, apakah faktor itu saja cukup? Dapatkah saya katakan bahwa semua ASN itu Pelayan Masyarakat? Abdi Bangsa? Jawabannya kembali kepada motivasi masing-masing kita namun sesungguhnya tidak semua semata-mata memiliki latar belakang tersebut.

Mengapa Aku Ingin Menjadi ASN?

Desember 2020, tepat 8 tahun pengabdian itu, Penulis berikan bagi negeri ini. Suka duka mungkin belum cukup menggambarkan kehidupan ASN secara 100% yang mewakili semua pihak. Penulis mendaftarkan diri menjadi bagian dari negeri ini dengan terjun langsung menjadi seorang ASN dimulai dari keikutsertaan dalam suatu Kamp Pengutusan Mahasiswa. Dalam Kamp tersebut dibagi beberapa jenis kategori yang menjadi fokus bagi para alumni mahasiswa/i yang akan menghadapi dunia pekerjaan. Kategori tersebut terdiri dari Pegawai Swasta, Enteprenuer, Pelayan Tuhan dan tentunya PNS atau yang dikenal juga dengan sebutan ASN.

Saat itu, penulis memilih kategori PNS, diawali dengan kesukaan terhadap tokoh Bung Hatta (salah satu Founding Father NKRI) yang pada akhirnya membawa penulis mencari cara bagaimana agar diriku secara pribadi walau dalam posisi seminim mungkin efek bisa memberikan kontribusiku bagi bangsa ini, Indonesia. Dalam Kamp tersebut, penulis diingatkan akan banyak hal terkhususnya makna pelayanan. Dalam salah satu ulasannya, kami diingatkan bahwa “Jika engkau mengasihi negeri ini, ingin berfungsi seoptimal mungkin bagi negeri ini, berikanlah dirimu untuk mengabdi pada area yang memberikan kontribusi bagi masyarakat bangsa ini”, ulasan tersebut secara tidak langsung membuka mata penulis secara pribadi bahwa menjadi ASN bukan hanya membicarakan mengenai profesi, gaji, atau hal lainnya. Ada makna lebih dalam dari peranan ASN yaitu kontribusi bagi negeri. Hal tersebut tidak menampik bahwa bekerja di sektor swasta pun dapat memberikan kontribusi kita namun mari kita tilik bersama kembali mengapa ASN. Dengan menjadi ASN, walau memiliki peranan sekecil mungkin, sesungguhnya kita turut andil dalam proses pembuatan kebijakan. Sekecil apapun peranan tersebut. Ya, pola pikir itulah yang membawa penulis memantapkan diri menjadi seorang ASN. Ada suatu pernyataan yang menyatakan : “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7). Hal tersebut menjadi pematik penulis untuk menjadi bagian dari kesejahteraan negeri ini. Selain itu menilik kembali dari salah satu pernyataan Bung Hatta yaitu “Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku. Ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku” yang semakin meyakinkan penulis menjadi bagian dari pemerintahan di Indonesia.  

Dinamika ASN

Desember 2012, secara sah, penulis bergabung dengan salah satu Kementrian di negeri ini. Penyesuaian dengan pengalaman bekerja di sektor swasta cukup memacu penulis untuk beradaptasi dengan segala hal yang ada. Mudah? Tidak, Terlalu Sulit? Tidak juga. Sebagai pendatang, penulis memilih untuk mengamati terlebih dahulu pola budaya kerja yang ada, SOP pekerjaan dan karakter daripada masing-masing rekan kerja yang ada di lingkungan penulis bekerja. Satu point yang langsung terlihat yaitu semua terjebak dalam rutinitas. Salah? Tidak, Benar? Tidak Juga. Hal inilah yang kemudian memacu penulis untuk kembali menganalisa hal apa yang menjadi strength (kekuatan) dan weakness (kekurangan) dari penulis. Seringkali kita mendengar bahwa beberapa ASN jarang melakukan gebrakan untuk mengubah suatu kebiasaan yang sudah terpatri dan itu menjadi hambatan awal dari yang penulis temukan. Pada akhirnya, penulis memberanikan diri mengajukan beberapa hal yang menurut penulis menjadi hal yang perlu diperbaiki guna mengefektikan dan mengefisienkan proses bisnis dalam tim. Tentunya bukan hal mudah terkhusus bagi sesama pegawai yang merasa terusik ketika beberapa ide yang ada berpeluang memberatkan mereka. Tentunya terkait hal tersebut, selain membagikan reviu yang ada, penulis juga mencoba memberikan solusi yang dapat diterima guna memudahkan semua pihak. Hanya satu kata kunci nya, “MAU” ya kalau seseorang telah terjebak dalam suatu pola pikir tidak hendak mengikuti dan mau mencoba proses tersebut, maka orang-orang tersebut akan terjebak dalam zona nyaman yang membuat mereka sulit untuk berkembang. Tentunya di balik tantangan itu adalah adanya “ketidakbiasaan” bagi mereka untuk mendengarkan mereka yang masih muda dan baru dalam suatu lingkup dunia tertentu. Hal ini tentunya dapat diatasi ketika kemampuan dalam communication skills kita dikembangkan dengan baik.

Isu dalam dunia ASN

Bekerja sebagai ASN pun tidak luput dari isu profesionalisme dan etos kerja lainnya. ASN tersebut akan menjadi beruntung apabila dia dapat masuk ke dalam lingkungan yang telah memiliki aturan main atau standard operation procedure (SOP) yang jelas, namun belum tentu hal tersebut terimplementasikan secara sempurna dalam setiap level. Lalu apa yang harus dilakukan bagi mereka para ASN yang baru atau mungkin baru beberapa tahun bekerja. Penulis secara pribadi memulai dengan memberikan warna saya bagi lingkungan dimana saya bekerja. Berpegang pada nilai-nilai kementrian dimana saya berada menjadi seperti air, pupuk dan cahaya matahari yang memperkuat akar dari etos kerja yang sedari awal saya miliki. Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan dan Kesempurnaan merupakan nilai-nilai yang menaungi penulis selama menjadi ASN di tempat penulis berada.

Tantangan atas setiap nilai tentunya ada, dimulai dari tawaran bingkisan dari pihak luar hingga SOP yang masih unclear di level tim saya khususnya. Apakah penulis menyerah? Jawabannya TIDAK. Tantangan integritas dimulai saat seorang pihak menanyakan alamat saya dikarenakan saya melakukan yang memang selayaknya saya lakukan sebagai bagian dari jobdesc saya. Saat itu, penulis secara langsung memberikan penolakan karena makna integritas adalah ketika engkau mampu melakukan yang benar sekalipun tidak dilihat oleh orang lain. Hal ini juga diyakini penulis bahwa walau tidak ada satupun yang mengetahui, namun Dia, Sang Pencipta akan selalu melihat apa yang sedang saya lakukan dan tentunya sebagai makhluk ciptaan yang taat, penulis paham betul mana yang boleh mana yang tidak boleh dilakukan. Hal lain yang penulis yakini ialah bahwa bekerja merupakan suatu bentuk ucapan syukur manusia atas pengetahuan, kesempatan dan pengalaman yang diberikan-Nya bagi kita dan penulis tidak mau mencederai hal tersebut dengan tindakan yang melanggar aturanNya. Selain tantangan eksternal, tantangan pun datang dari sisi internal, salah satunya SOP yang tidak jelas dikarenakan belum tentu rekan kita bisa melakukan aktivitas seoptimal mungkin. Hal ini penulis hadapi selama menjadi ASN. Lalu apa yang penulis lakukan? Tunjukkan warnamu. Ya itu yang penulis lakukan, walaupun tidak ada penunjukkan secara eksplisit dalam memimpin mereka yang lainnya, namun dengan dorongan dari dalam diri, penulis mengajak mereka bersama sama untuk membuat target yang hendak dicapai dan bersama-sama mengerjakannya. Selain itu, penulis selalu memastikan apakah rekan lainnya ada kesulitan atau mengalami kejenuhan pada titik-titik tertentu. Penulis percaya bahwa dalam bekerja kita harus professional namun tetap humanis. Jangan sampai target yang ada membuat kita lupa peran kita sebagai manusia yang merupakan mahluk sosial. Selain itu ASN sekarang harus berani tampil beda, speak up boleh namun terarah dan bertanggung jawab karena sesungguhnya critical thinking bisa melalui menyuarakan ide yang ada secara langsung ataupun melalui tulisan yang dimana cara kedua menjadi cara yang umumnya penulis ambil dalam memberikan kontribusi penulis bagi unit dimana penulis berada khususnya.

Harapan ASN ke depannya

Bagi para penduduk Indonesia, menjadi ASN sepertinya menjadi cita-cita yang amat sangat ingin dicapai. Umumnya dikarenakan jelasnya status, pendapatan dan hubungan kerja yang tidak mudah diputuskan sebelah pihak kecuali melakukan tindakan pelanggaran disiplin yang mengharuskan hal tersebut terjadi. Apakah motivasi-motivasi tersebut baik? TIDAK, tidak sama sekali. Hingga saat ini penulis masih menemukan sosok-sosok tersebut. Pihak-pihak yang masih berhitung dalam bekerja dan hanya memikirkan diri sendiri dan bukan tim bahkan bukan negaranya. Naif ? Ya mungkin namun sesungguhnya peranan sebagai ASN ialah suatu panggilan yang luar biasa. Panggilan mengabdikan diri bagi negeri ini. Panggilan untuk mengutamakan kepentingan negeri bahkan dibanding diri sendiri. Oleh karenanya, penulis mengharapkan agar ke depannya para ASN lebih memperkaya diri dan terpersiapkan menjadi Pelayan Masyarakat karena sesungguhnya itulah gambaran kita seharusnya, Abdi Bangsa. Penulis yakin ketika jiwa pelayanan bagi negeri, bagi masyarakat sudah mendarah daging dalam diri para ASN ke depannya, maka nilai-nilai lain seperti Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan dan Kesempurnaan serta nilai-nilai etos kerja yang baik akan hadir dengan sendirinya. Ketika itu semua dapat memenuhi setiap ASN di Indonesia, maka keterwujudan nilai-nilai Pancasila bukan hanya dalam mimpi, karena akar yang baik yang terawat akan menghasilkan buah yang baik.

Kerjakan panggilanmu, Wujudkan Karyamu 🙂

Total Page Visits: 315 - Today Page Visits: 1