Harapan Untuk ASN Sebagai Abdi Negara yang Diharapkan

Oleh : Dzikra Arsyi Ammar

Mahasiswa Semester 2 STPI Curug

Jika kita mendengar istilah “Abdi Negara”, kebanyakan masyarakat Indonesia mempresentasikannya sebagai seseorang yang bekerja pada pemerintah dan digaji oleh pemerintah. Selain itu, jika kita bertanya secara acak kepada masyarakat di Indonesia tentang siapa yang termasuk  “Abdi Negara” mayoritas dari mereka banyak yang menjawab PNS (pegawai negeri sipil) salah satu yang termasuk di dalamnya. Akan tetapi, Abdi Negara tidak hanya sebatas PNS/ASN semata, namun TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan Polri (Kepolisian Republik Indonesia) juga termasuk abdi negara. Jadi seseorang yang bekerja sebagai abdi negara adalah pegawai negeri, pegawai negeri menurut Undang-Undang Nomor 43 tahun 1999 adalah setiap Warga Negara Indonesia yang telah memenuhi syarat  yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas Negara lainnya, dan digaji sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menjadi ASN sangat diidam-idamkan oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, hal ini terbukti pada tahun 2019 lalu, pelamar untuk dapat menjadi ASN mencapai 5 juta pendaftar. Dengan banyaknya pelamar di setiap tahunnya dan berkurangnya jumlah formasi yang dibutuhkan akan meningkatkan persaingan untuk lolos menjadi ASN. Berbagai keuntungan yang didapatkan menjadi daya tarik utama banyaknya pendaftar ASN di satiap tahunnya, daya tarik tersebut antara lain tunjangan gaji ASN yang menggiurkan disamping gaji pokok yang cukup besar, adanya tunjangan pensiun yang didapatkan seorang ASN ketika dirinya sudah bebas masa tugas dari intansi terkait, mendapatkan jaminan kesehatan dari pemerintah seperti BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan yang tentunya sangat bermanfaat bagi seorang ASN, dan bertambahnya rasa percaya diri di masyarakat karena menjadi seorang ASN dianggap memiliki derajat sosial yang tinggi. Maka dari itu, suatu kebanggaan bagi diri sendiri maupun keluarga apabila dapat di terima menjadi seorang ASN.

Dengan sederet keuntungan yang didapatkan dan jaminan kehidupan yang sejahtera malah menimbulkan beberapa tantangan tersendiri bagi seorang ASN dalam mengemban tugasnya. Mengapa demikian? Jaminan hidup yang memanjakan dan profit gaji yang besar sering memunculkan sikap-sikap yang seharusnya tidak ada dalam diri seorang ASN, sikap-sikap tersebut seperti disintegritas, disloyalitas, dan materialitas. Seorang ASN dituntut untuk menjunjug tinggi sikap integritas dalam bekerja dan mengamban amanah, banyaknya kasus korupsi yang masih menyeret nama oknum ASN menjadi bukti bahwa mulai lunturnya sikap integritas yang ada dalam seorang ASN, ketidakjujuran inilah yang membuat citra seorang ASN menjadi tercemar dan dipandang buruk oleh masyarakat. Selain itu, istilah “makan gaji buta” sering tersemat pada sebagian ASN Indonesia, dimana istilah ini ditujukan bagi oknum-oknum ASN yang hanya menginginkan kenaikan gaji semata tanpa dibarengi dengan peningkatan kualitas kerja. Masih banyak oknum ASN yang malas dan lambat dalam bekerja sehingga urusan yang tadinya dapat diselesaikan secara sederhana dan singkat malah menjadi rumit serta bertele-tele. Di sini, kinerja ASN pun perlu dipertanyakan, berbagai sektor masih perlu untuk dievaluasi, baik sektor manajemen pusat dalam hal ini diwakili oleh Kemenpan RB yang menjadi aktor utama dalam penyaringan dan penyeleksian CPNS maupun dari ASN itu sendiri.

Jika kita melihat bagaimana sulit dan ketatnya seleksi CPNS serta banyaknya pelamar yang gugur maka dapat disimpulkan bahwa mereka yang lolos menjadi seorang ASN pastinya merupakan orang-orang terpilih, berkualitas, serta mampu untuk diberi tanggung jawab. Namun, seleksi yang berkualitas ini harus ternodai dengan banyaknya oknum-oknum yang menawarkan cara instan untuk menjadi seorang ASN, bahkan hal ini sudah menjadi ladang bisnis bagi sebagian orang. Tidak sedikit pula oknum-oknum pejabat ASN yang notabenenya menjadi panutan dalam lembaga yang dipimpinnya melakukan hal memalukan tersebut. Rasa egoisme dan ambisi materialistik menjadi factor utama banyak bermunculannya calo-calo yang menyediakan jasa instan untuk lolos CPNS. Tentunya banyak dampak buruk yang terjadi apabila bisnis calo ini terus dibiarkan berkembang. Dampak tersebut antara lain :

  1. Menurunnya kualitas CPNS yang tidak sesuai dengan harapan semula, seleksi CPNS tentunya sudah tersusun secara baik dan berkualitas karena negara hanya membutuhkan sesorang yang mau bekerja dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Akan tetapi, hal ini seringkali harus kalah dengan uang dan jabatan para konglomerat yang hanya mengingikan hasil instan tanpa melihat dampak yang terjadi.
  2. Memudarnya sikap integrasi seorang ASN, integritas atau kejujuran adalah obat ampuh dalam memberantas budaya korupsi di Negara ini. Jika baru masuk saja sudah tidak  jujur pasti kedepannya sifat tersebut akan terus mengakar pada jiwanya dan mengakibatkan mudahnya terjerumus ke dalam jurang korupsi yang sangat merugikan bangsa ini.
  3. Turunnya kinerja pemerintah dalam melayani kepentingan masyarakat, banyaknya ASN yang tidak sesuai dengan kriteria penerimaan CPNS tentunya berpengaruh pada kinerja lembaga pemerintah itu sendiri. Kelembagaan pemerintah dapat kita analogika sebagai sebuah perusahaan, maju atau tidaknya suatu perusahaan  ditentukan oleh kualitas SDM dan manajemen yang dimiliki perusahaan tersebut.

Negara ini membutuhkan SDM manusia yang unggul dan berkualitas dalam segala bidang terlebih lagi pada bidang pemerintahan yang digerakkan oleh para abdi negara.  Menjadi ASN bukan hanya sekedar pekerjaan semata, namun juga merupakan suatu kehormatan yang luar biasa. ASN harus mengemban tanggung jawab besar dalam melayani kepentingan masyarakat.

Di era digital saat ini, ASN harus berpacu dengan perkembagan teknologi yang semakin pesat. Perkembangan teknologi yang semakin canggih seharusnya dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kinerja ASN, bukan malah membuat kinerja ASN menjadi terhambat karena minimnya pengetahuan di bidang teknologi. Seorang ASN dituntut melek teknologi dan harus mau belajar tentang teknologi.

Jadi tugas seorang ASN adalah suatu tugas yang mulia dan tidak dapat dianggap enteng. Oleh karena itu, seorang ASN harus menyadari betul tentang tanggung jawabnya sebagai abdi negara, seorang ASN bukan hanya berorientasi pada gaji dan tunjangan semata, namun juga harus meningkatkan kinerja dalam pelayanan terhadap masyarakat. ASN masa kini dituntut untuk bekerja secara cepat dan tepat serta dapat menyesuaikan pesatnya perkembangan teknologi. Pembenahan sistem seleksi ASN yang jujur  menjadi kunci dalam menyediakan ASN yang berdedikasi tinggi terhadap negara Indonesia.

Total Page Visits: 1126 - Today Page Visits: 3