Gotong Royong dan Implementasi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bermasyarakat: Menuju Indonesia Maju dan Sejahtera

Fatmawati Indah Purnamasari, S.Psi., M.Si

Widyaiswara Pertama, Badan Koordinasi Penanaman Modal

Pendahuluan

Berdasarkan KBBI, gotong royong diartikan sebagai bekerja bersama-sama, saling tolong-menolong, saling bantu-membantu. Dengan kata lain, gotong royong dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan bersama-sama dalam konteks sosial kemasyarakatan. Gotong royong juga dapat berarti keyakinan tentang pentingnya melakukan kegiatan secara bersama-sama dan bersifat sukarela sehingga kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan cepat, efektif, dan efisien.

Nilai gotong royong telah lama dikenal oleh bangsa Indonesia dan diturunkan secara turun-temurun oleh pendahulu kita. Nilai gotong royong perlu dipelihara oleh bangsa Indonesia untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah bangsa ini. Gotong royong sebagai usaha bersama yang ditempuh dengan cara saling bahu-membahu demi kepentingan bersama dan kebahagiaan bersama. Gotong royong melibatkan kesadaran setiap lapisan masyarakat, dimulai dari diri sendiri hingga level pemerintahan dan bangsa Indonesia. Gotong-royong dapat mendorong masyarakat untuk bersatu dalam menghadapi tantangan bersama. Selain itu, semangat solidaritas juga mendorong kerjasama antar individu dan antar kelompok. Kelompok solidaritas telah terbentuk, maka kepentingan individu atau sekelompok masyarakat dapat dikesampingkan terlebih dahulu untuk kepentingan bersama. Kekuatan – kekuatan dan sumber daya yang dimiliki setiap orang disumbangkan dalam semangat kebersamaan sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat lebih luas.

Pembahasan

Menurut saya, berdasarkan makna harfiah dari gotong royong itu sendiri, terdapat tiga dimensi yang menjadi pembangun konsep gotong royong. Ketiga dimensi tersebut adalah kerja sama, sinergi, dan semangat kekitaan. Dalam gotong-royong, dibutuhkan aktivitas yang dilakukan secara bersama-sama dalam artian kerja sama untuk menyelesaikan suatu target. Tanpa adanya kerja sama, gotong royong tidak akan dapat terlaksana dengan efektif. Selain itu, gotong royong juga harus dilakukan dengan sinergi sehingga membuat kegiatannya lebih efisien. Dalam mencapai suatu target, saat dilakukan serentak bersama-sama, target tersebut akan lebih cepat tercapai dibandingkan dengan kegiatan parsial yang kemungkinan memakan waktu lebih lama. Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa gotong royong juga memerlukan semangat kekitaan yang berarti bahwa gotong royong dilakukan semata memang untuk kepentingan kita bersama. Tanpa adanya rasa persatuan yang membuat kita merasa satu, suatu kegiatan hanya akan dianggap sebagai kerja kelompok semata. Hadirnya semangat kekitaan inilah yang menjadi kerja kelompok dapat diekskalasi menjadi gotong royong.

Dalam kehidupan bermasyarakat, semangat gotong royong dapat kita amati dalam kegiatan kerja bakti. Masyarakat yang terbentuk dalam wadah sosial berupa rukun tetangga, rukun warga, ataupun masyarakat desa hingga kota, menjadikan kegiatan kerja bakti sebagai suatu perwujudan ketiga dimensi gotong royong. Dalam kerja bakti, tentunya mencapai target lingkungan bersih dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat. Kegiatan juga dilakukan sinergi dan bukan terpisah-pisah antar waktu. Sebenarnya bisa saja warga melakukan kegiatan bersih-bersih lingkungan secara mandiri di waktu yang berbeda-beda. Akan tetapi, hasil yang dicapai pun akan berbeda dengan kegiatan bebersih yang dilakukan serentak dan bersinergi seluruh warga masyarakat. Target bersih akan lebih cepat tercapai dan terlihat hasilnya. Disamping itu, semangat kekitaan juga muncul dengan adanya kegiatan kerja bakti. Warga yang merasa tinggal dalam sebuah lingkungan sosial akan merasa perlu untuk turut serta mengikuti kegiatan kerja bakti secara sukarela karena meyakini bahwa dampak positifnya akan ia rasakan juga. Sayangnya, kegiatan kerja bakti ini sudah mulai luntur dan jarang dilakukan di lingkungan masyarakat. Belum lagi adanya kejadian pandemic covid-19 yang membuat kegiatan berkelompok harus dibatasi untuk waktu yang tidak menentu.

Bagi penulis, momentum pandemi ini dapat dijadikan kesempatan bagi pemerintah untuk menyusun kembali “kurikulum” implementasi gotong royong sebagai suatu jati diri bangsa Indonesia. Melalui alokasi anggaran baik dana desa maupun dana alokasi khusus lainnya, masyarakat dapat difasilitasi untuk menjaga nilai luhur gotong royong. Para aparatur desa/ kelurahan hingga unit terkecil seperti rukun tetangga dan rukun warga dapat dilibatkan untuk menjadi penggerak kegiatan kerja bakti yang dilakukan secara serentak berskala nasional misalnya. Setelah pandemi berlaku, pemerintah dapat membuat gerakan Indonesia Bersih yang memiliki kegiatan rutin sebulan satu kali dan dilakukan di hari Minggu pagi. Dengan dukungan pemerintah dalam membuat kebijakan terkait kerja bakti ini, sedikit demi sedikit nilai gotong royong dapat mulai diwariskan kepada generasi muda.

Selain kegiatan kerja bakti, wujud gotong royong lainnya yang dapat kita amati adalah kegiatan tolong-menolong. Kegiatan yang dahulunya dilakukan secara guyup di lingkungan warga, kini bahkan sudah dapat dilakukan tanpa sekat ruang dan waktu. Hadirnya berbagai kemudahan teknologi dan digitalisasi perbankan membuat kegiatan tolong-menolong semakin mudah dilakukan kapanpun dan dimanapun. Disini saya ambil contoh Kitabisa, sebuah online platform karya anak bangsa yang membantu menyalurkan donasi “orang baik” – sebutan yang mereka pakai untuk donator. Bayangkan saja, kegiatan tolong-menolong kini dapat dilakukan secara online dan viral, massif layaknya virus. Salah satu warga yang membutuhkan bantuan disini, serentak para “orang baik” membantu dari berbagai penjuru. Munculnya semangat kekitaan bukan lagi dalam konteks warga masyarakat rukun tetangga semata, tapi sudah melebar menjadi lingkup nasionalis. Belum lagi adanya strategi penggalangan dana yang dilakukan melalui cerita (storytelling) oleh Kitabisa membuat para donator merasa tergerak untuk Indonesia, disamping karena empati dan dorongan sosial lainnya. Platform semacam ini juga patut mendapat dukungan dari pemerintah karena dengan adanya kegiatan saling tolong-menolong, masyarakat Indonesia semakin bersatu dan memiliki semangat yang sama. Pemerintah perlu hadir untuk turut serta berpartisipasi dalam mengawal selesainya permasalahan yang dihadapi bangsanya. Dengan begitu, para “orang baik” yang berharap dapat menyelesaikan permasalahan yang ada, dapat merasakan juga kehadiran pemerintah untuk turut serta mengatasi permasalahan. Keikutsertaan pemerintah dapat dilakukan sebagai regulator ataupun mediator bagi permasalahan warga negara, ataupun dalam bentuk lainnya. Bisa jadi berbagai permasalahan yang ada di dalam platform online tersebut adalah warga negara yang sepatutnya menjadi target penerima manfaat dalam berbagai program pemerintah. Dengan demikian, pemerintah dapat lebih efektif menjalankan programnya karena dibantu oleh berbagai pihak dalam menemukan target penerima yang lebih kualified dan benar-benar membutuhkan. Dukungan pemerintah untuk eksistensi platform online semacam Kitabisa juga diperlukan guna adanya pemupuk rasa persatuan dan gotong royong antar warga negara Indonesia. Kini sudah saatnya gotong royong menjadi digital juga.

Penutup

Gotong-royong adalah nilai luhur yang patut dijaga dan dipupuk kelestariannya. Menjadi Indonesia yang maju dan sejahtera tidak dapat terwujud tanpa adanya dukungan dari masyarakat itu sendiri. Hadirnya masyarakat yang siap sedia untuk bekerja sama, bersinergi, dan memiliki semangat kekitaan akan membuat setiap program pemerintah dapat dilaksanakan dengan efektif, efisien, dan optimal. Melalui dukungan pemerintah dalam kegiatan gotong royong, investasi untuk persatuan dan kesatuan bangsa juga ikut diaktifkan. Masyarakat yang menyadari bahwa dirinya memiliki latar belakang dan target output yang sama dengan warga lainnya, akan lebih engage untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Dukungan pemerintah berupa alokasi dana desa dan dana alokasi khusus untuk kegiatan kerja bakti warga dapat mulai dilaksanakan setelah pandemic covid-19 ini berlalu. Pentingnya memasukkan kegiatan kerja bakti dalam alokasi program pemerintah membuat seluruh warga negara akan menyadari pentingnya gotong royong dalam mencapai target menuju Indonesia maju yang sejahtera seluruh warganya.

Total Page Visits: 2372 - Today Page Visits: 4