ASN: Orientasi pada Pengabdian Sejati Bukan Kebanggan Diri Atas Materi

Oleh: Yenni Rizqi Rahmawati K.E., S.Pd

ASN Kementerian Agama

Pegawai Negeri Sipil atau PNS merupakan salah satu profesi yang dianggap paling bergengsi di masyarakat, sejak dulu hingga sekarang. Bagaimana tidak? Anggapan masyarakat bahwa seorang PNS adalah seorang yang sukses dan selalu tercukupi kebutuhan hidupnya sudah melekat dan seakan membudaya, hal ini karena seorang PNS memperoleh gaji yang tetap setiap bulannya, adanya berbagai macam uang tunjangan, adanya uang makan (pada instansi atau kementerian tertentu), serta yang paling utama adalah adanya jaminan pensiun dan jaminan hari tua. Beragam kebanggaan yang bersifat materi akan muncul dari keluarga seorang PNS tanpa kita tahu bagaimana sebenarnya profesi menjadi pelayan publik tersebut, bagaimana dia berjuang dalam melaksanakan amanah menjadi abdi negara, dan bagaimana menghadapi berbagai problematika di lingkungan kerja maupun sosial budaya. Dan sekarang (ternyata) tibalah giliran penulis diberi kesempatan menduduki posisi tersebut. Bukan sebuah cita-cita maupun harapan, tetapi tentang sebuah pengabdian.

Aparatur Sipil Negara (ASN) berdasarkan Undang-Undang No.5 Tahun 2014 adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah. Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan hal tersebut, profesi pegawai negeri sipil (PNS) bersama dengan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) adalah bagian dari ASN yang tidak lain adalah abdi negara dan pelayan publik.

ASN sebagai profesi yang segala ketentuannya telah diatur dalam perundang-undangan dalam tugasnya melayani publik, maka produktivitas kinerja menjadi salah satu hal yang dipertimbangakan berkaitan dengan usia pegawai sehingga bagi pegawai ASN yang berusia  58 (lima puluh delapan) tahun bagi Pejabat Administrasi; atau 60 (enam puluh) tahun bagi Pejabat Pimpinan Tinggi; serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan bagi Pejabat Fungsional maka memperoleh hak pensiun. Guru PNS sebagai salah satu ASN yang menduduki jabatan fungsional memiliki batas usia pensiun (BUP) 60 tahun berdasarkan Undang-Undang. Oleh sebab adanya masa pensiun maka pemerintah membuka kembali rekruitmen penerimaan calon pegawai negeri sipil yang dimulai tahun 2017 dan untuk rekrutmen PNS baru jabatan guru dibuka secara besar-besaran pada CPNS tahun 2018.

Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana menyatakan jumlah formasi yang dibuka pada CPNS 2018 sebanyak 238.015 secara nasional dengan formasi sebanyak 51.271 posisi di instansi pusat yang terdiri atas 76 kementerian/lembaga dan 186.744 posisi CPNS di 525 instansi daerah.Kementerian Agama merupakan kementerian yang paling banyak membutuhkan slot PNS baru sebanyak 17.175 dengan posisi guru dan dosen.

Sebuah profesi melayani publik oleh seorang ASN yang penulis sampaikan disini yaitu saat rekrutmen CPNS 2018 dimana penulis sebagai seorang yang masih benar-benar pemula mencoba ikut bergerilya memperebutkan “kursi” PNS guru di lingkungan Kementerian Agama merasakan bagaimana sistem perekrutan pegawai yang transparan dan akuntabel. Transparan karena proses awal seleksi hingga pengumuman akhir begitu terbuka, misalnya saat seleksi administrasi disertakan dengan pencantuman daftar peserta yang lolos maupun yang tidak lolos beserta data kekurangan atau kekeliruan berkas yang dikirimkan secara rinci; saat seleksi SKD dengan sistem CAT peserta langsung mengetahui nilai dan peringkatnya; serta saat seleksi SKB adanya penjagaan ketat dari panitia dan pelaksaan tes ujian dan wawancara yang spontan dan profesional. Hal ini memberi gambaran kepada penulis bahwa para pegawai ASN Kementrian Agama mampu melaksanakan pelayanan publik dengan semaksimal mungkin meskipun dengan jumlah peserta seleksi mencapai ratusan hingga ribuan orang setiap harinya. Selain transparan, proses perekrutan juga akuntabel karena setiap proses seleksi dari awal hingga pengumuman akhir dapat dipertanggungjawabkan oleh para pegawai sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, tanpa ada campur tangan dari pihak manapun termasuk disini yaitu calo.

Setiap abdi negara dalam amanahnya menjalankan tugas negara dan melaksanakan pelayanan publik harus bisa secara konsisten ditunaikan, sehingga perlu adanya sebuah prinsip yang dipegang teguh bersama-sama. Berkaca pada maksimalnya pelayanan yang dilakukan oleh para pegawai di lingkungan kantor Kementerian Agama selama proses seleksi CPNS 2018, penulis kemudian menemukan bahwa terdapat lima nilai budaya kerja yang menjadi prinsip dalam pelaksanaan tugas pelayanan publik oleh seluruh pegawai di lingkungan kantor Kementerian Agama yang wajib untuk diamalkan selama menjalankan tugas. Lima nilai budaya kerja tersebut yaitu integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, dan keteladanan. Lima nilai budaya kerja tersebut jika setiap pegawai ASN Kementerian Agama mampu menanamkan dan mengamalkannya dengan baik maka akan tercermin dalam bentuk pelayanan publik dan pelaksanaan tugas negara yang andal.

Nilai integritas adalah sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Integritas juga dapat diartikan sebagai selarasnya hati, pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan benar. Hal ini menunjukkan bahwa hal pertama yang harus dimiliki oleh setiap pegawai ASN Kementrian Agama adalah berkaitan dengan lurusnya niat dalam hati selama menjalankan tugas negara sehingga pikiran, perkataan, dan perbuatan akan mengikuti kebaikan tersebut secara utuh. Nilai profesionalitas berarti kemampuan untuk bertindak secara profesional dalam setiap tugas yang diemban. Setiap pegawai ASN Kementerian Agama mampu menunjukkan sikap disiplin dan kompeten serta lebih mengutamakan kepentingan negara/publik dibanding kepentingan individu. Nilai inovasi ialah penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (berupa gagasan, metode, atau alat). Hal ini sebagai bentuk upaya pegawai ASN Kementerian Agama dalam menyikapi perkembangan zaman yang semakin canggih sehingga setiap pegawai dituntut untuk menemukan hal-hal baru yang bermanfaat bagi masyarakat berkaitan dengan pelaksanaan tugasnya. Nilai tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dan sebagainya). Hal ini menunjukkan setiap pegawai harus melaksanakan tugas secara tuntas dan konsekuen. Nilai keteladanan adalah hal yang dapat ditiru atau dicontoh sehingga diharapkan setiap pegawai ASN Kementerian Agama dapat menjadi teladan di lingkungan sekitarnya dengan berbekal pada nilai-nilai budaya kerja sebelumnya yang sudah tertanam kuat dalam diri.

Lima nilai budaya kerja tersebut jika tidak ditanamkan secara rutin setiap hari atau minggunya di masing-masing instansi Kementerian Agama maka nilai-nilai tersebut akan memudar dan terlupakan, sehingga dapat memunculkan problematika di lingkungan kerja maupun sosial budaya, seperti yang penulis amati pada instansi mengajar dan beberapa instansi lainnya, misalnya pegawai senior yang tidak menunjukkan nilai keteladanan bagi pegawai baru sehingga muncul kesalahpahaman dalam beberapa hal saat menjalankan tugas yang jika hal tersebut berlangsung terus menerus maka dapat berakibat menjadi kurang harmonisnya hubungan sosial diantara kedua belah pihak. Kurangnya motivasi untuk berinovasi dalam pembelajaran maupun pelaksanaan tugas jabatan akan menyebabkan kemunduran secara perlahan diri maupun instansi yang berdampak pada kurikulum maupun lainnya.

Oleh karena itu penting dalam menjaga dan mempertahankan prinsip dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara. Sebagai pegawai ASN Kementerian Agama minimal harus ingat dan mengamalkan lima nilai budaya kerja. Beberapa cara yang dapat dilakukan agar setiap pegawai mengingatnya yaitu melafalkan lima nilai budaya kerja setiap pelaksanaan upacara, saat acara pembinaan dan saat rapat dinas, memasang tulisan lima nilai budaya kerja di setiap ruang kantor, dan menanamkan lima nilai budaya kerja dengan penuh kesadaran dalam diri sehingga akan menjelma menjadi karakter setiap pegawai.

Seiring berjalannya waktu menjalankan tugas sebagai pegawai ASN, seiring itu pula penulis merasakan bagaimana seharusnya menjadi seorang pelayan publik dan abdi negara yang senantiasa konsisten dan bertanggung jawab melaksanakan tugas negara. Pun demikian harapannya untuk seluruh pegawai ASN di Indonesia. Berbagai problematika yang muncul dalam lingkungan kerja semestinya tidak menjadikan diri pegawai ASN kendor dalam berkarya dan menjalankan amanah. Hal ini sebaiknya lebih disikapi sebagai alarm untuk memacu produktivitas dalam kinerja.

Pegawai ASN menjadi citra rakyat dan bangsa Indonesia karena mereka berani menanggung dan melaksanakan tugas-tugas negara di pundak mereka agar dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya demi kemajuan negara. Tentang gaji, tunjangan, dan jaminan masa tua yang lebih banyak memikat mata masyarakat, ialah semua hanya bonus atas kerja keras yang dilakukan. Jangan sampai ketika bonus sudah dinaikkan malah kinerja justru menurun. Itu bukan nilai dari sebuah pengabdian. Sejatinya menjadi ASN adalah sebuah pengabdian besar pada negara meskipun bukan bermula atas cita-cita dan harapan di masa belia. Bangsa Indonesia membutuhkan jiwa-jiwa pengabdi yang siap berjuang demi kemajuan dan kemakmuran negara dan masyarakatnya. Jiwa-jiwa bersih yang penuh prinsip seperti yang ditanamkan dalam lima budaya kerja Kementerian Agama : integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, dan keteladanan.  Salam pengabdian untuk ASN Indonesia!

 Daftar pustaka

https://jogja.tribunnews.com/2018/09/06/formasi-cpns-2018-menpan-rb-total-238015-posisi-terbanyak-posisi-tenaga-kesehatan-dan-guru diakses pada 17 Oktober 2020 pukul 20.10 WIB

https://kbbi.web.id/integritas diakses pada 18 Oktober 2020 pukul 16.08 WIB.

https://kbbi.web.id/profesionalitas diakses pada 18 Oktober 2020 pukul 16.10 WIB

https://kbbi.web.id/inovasi diakses pada 18 Oktober 2020 pukul 16.11 WIB

https://kbbi.web.id/tanggung%20jawab diakses pada 18 Oktober 2020 pukul 16.12 WIB

https://kbbi.web.id/teladan diakses pada 18 Oktober 2020 pukul 16.14 WIB

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180926075106-20-333238/formasi-cpns-2018-lowongan-guru-dan-dosen-paling-banyak   diakses pada 17 Oktober 2020 pukul 20.02 WIB

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara

Total Page Visits: 479 - Today Page Visits: 2