ASN Antikorupsi, Indonesia Berseri

Oleh: Masbahur Roziqi

Guru Bimbingan dan Konseling SMA Negeri 2 Kraksaan

Bagi saya pondasi harapan untuk ASN (Aparatur Sipil Negara) Indonesia yang masih jadi tantangan hingga saat ini adalah antikorupsi. Saat saya menulis ini secara kepenulisan mudah sekali. Tinggal mengetikkan katanya. Selesai sudah. Namun pada realitanya, melaksanakan amanah kata antikroupsi ini memunculkan tantangan besar. Ya, menjadi ASN antikorupsi itu adalah bagian dari kewajiban kita. Tapi saat berada di lapangan, untuk konsisten menajdi antikorupsi, perlu perjuangan dan pengorbanan luar biasa. 

Perjuangan itu saya rasakan saat awal menjadi CPNS. Beberapa teman CPNS yang notabene masih angkatan baru mengajak untuk memberikan hadiah kepada pegawai cabang dinas. Tujuannya sebagai ucapan terima kasih telah membantu kami dalam hal pengurusan administratif selama mengikuti kegiatan pelatihan dasar CPNS. Saya bergeming. Perlahan saya berusaha memahamkan mereka jika itu bisa jadi bagian dari gratifikasi. Layanan pegawai cabang dinas tersebut sudah menjadi tugas pokok mereka. Jangan malah dijadikan anggapan layanan ekstra. Akan jadi kontraproduktif. 

Berkaca dari hal itu, ternyata korupsi ini masih menggelayuti sebagian besar pemikiran para ASN. Tidak hanya ASN yang senior tapi juga ASN junior. Walau pun tidak semua karena niat jahat. Bisa karena ketidaktahuan. Seperti pengalaman saya tersebut. Saya melihat itu bagian dari ketidaktahuan teman-teman saya. Mereka masih belum paham apa saja jenis korupsi. Gratifikasi selama ini telah menjadi hal lumrah. Pemberian yang berdasar niat baik untuk berterima kasih karena telah diberi pelayanan maksimal. Padahal di balik itu ada hal berbahaya yakni tanam budi. Ketika seorang ASN telah memberi gratifikasi pada ASN lain, berpotensi untuk tanam budi. Berharap suatu saat dapat dilancarkan lagi urusannya. Bahkan bisa mendapat prioritas. Ini yang berbahaya dari gratifikasi. Mencederai rasa keadilan dalam hal melakukan pelayanan. Tentu ASN harapannya harus menghindari perbuatan ini. 

ASN menjadi contoh utama bagi masyarakat. Berdasar UU ASN, tentu wajib agar pegawai negeri melaksanakan tugasnya dengan menjunjung tinggi prinsip antikorupsi. Oleh karenanya, hal utama adalah belajar tentang korupsi. ASN harus mengetahui detail pengetahuan antikorupsi. Contohnya apa itu korupsi, apa saja jenis tindak pidana korupsi dan berbagai pengetahuan antikorupsi lainnya. Sumber nya sudah banyak. Ada sumber e-learning dari KPK dan ICW (Indonesia Corruption Watch) misalnya. Dari sana ASN bisa belajar banyak. Sehingga ketidaktahuan itu perlahan bisa tersingkirkan. 

Ketika pengetahuan sudah didapat apa yang berikutnya dapat ASN raih agar tetap bisa bekerja dengan prinsip antikorupsi? Berperilaku asertif dengan konsisten. Ini yang menjadi tantangan utama bagi ASN. Tidak hanya ASN senior, ASN pemula seperti saya pun merasakannya. Asertif menjadi hal langka yang terus berusaha bisa saya terapkan. 

Semisal ketika saat awal pandemi corona ini merebak, kepala sekolah meminta bapak ibu guru menyiapkan diri melakukan pembelajaran tatap muka. Padahal kala itu warna daerah kami masih zona merah. Tentu ini tidak benar. Pemerintah sendiri melalui gugus tugas covid-19 sudah meminta agar zona merah tidak membuka pembelajaran tatap muka terlebih dahulu. Demi keselamatan nyawa para murid. Saya memberanikan diri untuk menolak, dengan rasionalisasi sekolah masih berada pada zona merah. Sehingga sangat beresiko jika membuka pembelajaran tatap muka. Alhamdulillah, ternyata selang beberapa waktu kemudian kebijakan ini batal. Saya bersyukur. Meskipun ya pembatalannya juga bukan karena penolakan saya juga sih. Tapi setidaknya saya telah mengambil bagian untuk tetap teguh berperilaku asertif. 

Nah, keberanian seperti ini yang patut kembali ASN teladankan kepada masyarakat. Jika ada hal menyimpang dari jati diri ASN sebagai pegawai yang mengabdi pada negara, tentu harus lah bersuara. Tidak bisa hanya diam. Tentu tidak sembarang bersuara dengan langsung saja mempublikasikan ke eksternal. Melainkan melalui dialog-dialog konstruktif dalam internal lembaga. Jangan canggung untuk asertif. Gunakan pengetahuan dan tekad yang anda miliki untuk menegaskan hal tersebut. Tidak perlu takut. 

Tentu untuk caranya bisa menggunakan bahasa dan gestur tubuh yang sesuai. Tidak asal tabrak. Karena asertif sendiri memiliki pengertian kita menyampaikan ketidaksetujuan kita dengan elegan atau terhormat, artinya tidak membuat orang lain merasa direndahkan. Beda dengan agresif. Penting sekali untuk asertif sebagai seorang ASN. 

Berkaca dari hal tersebut ASN patut berdaya dalam hal menerapkan nilai antikorupsi. Berdaya artinya tidak bergantung orang lain untuk menerapkannya. Tidak ikut-ikutan. Karena tidak ada yang menerapkan nilai antikorupsi, dia juga ikutan tidak menerapkan. Ini yang berbahaya jika keterusan ASN lakukan. Sebab bisa menjadi kebiasaan. Tentu jika sudah terbiasa, maka akan sulit untuk mengubahnya. Maka dari itu, perlu sikap bebal untuk hal ini. Bahkan jika bisa mempengaruhi orang lain untuk antikorupsi, pengaruhi saja. Sebab itu sama halnya mengajak orang untuk berbuat kebaikan. 

Beberapa kali saya melakukan hal tersebut. Beberapa teman yang sudah mulai terpengaruh untuk memberi gratifikasi jika ingin lancar urusan kedinasannya, saya ajak diskusi untuk tidak melakukannya. Lakukan saja sesuai prosedur kedinasan. Tidak perlu mengeluarkan insentif ekstra untuk pemulus. Malah akan memunculkan dua hal merugikan. 

Pertama merugikan mereka sendiri karena belum tentu juga urusan mereka akan lancar. Sebab gratifikasi itu tentu bukan bagian dari prosedur resmi. Yang tiap saat bisa secara resmi ditanyakan. Pasti itu berprinsip belakang tangan. Artinya tidak boleh banyak orang tahu secara resmi. Karena juga melanggar prosedur resmi. 

Kedua, mereka juga merugikan orang lain. Mengapa? Karena secara tidak langsung juga turut menjerumuskan para pegawai yang meminta gratifikasi itu untuk terus melakukan korupsi berulang. Tentu ketika mereka mendapat keuntungan saat itu, tidak menutup kemungkinan nantinya juga akan melakukan hal yang sama karena ketagihan. Apalagi raupan rupiah yang diperoleh besar. Ini yang saya ingatkan kepada teman-teman saya itu. Apakah mereka mau meneruskan praktik itu atau menjadi bagian pendobrak yang tidak lagi melestarikan kebiasaan tersebut? Alhamdulillah, setelah melalui diskusi internal yang cukup lama, para teman saya itu mengurungkan niatnya. Walaupun tentu saya tidak tahu dalam praktik nyata di luar komitmen tersebut mereka benar tidak melakukannya atau sebaliknya. Tapi setidaknya saya telah mengajak mereka untuk kembali mengingat jati diri mereka sebagai ASN. Tentang nilai ke ASN nan yang telah kami peroleh bersama saat latsar. 

Akhir kata, jalan terjal masih menghadang di depan para ASN Indonesia untuk menerapkan sikap antikorupsi secara utuh. Berbagai rintangan dan tantangan menghadang pada setiap langkah komitmen ASN yang berusaha menegakkan sikap antikorupsi. Tapi percayalah itu bukan hal mustahil. Kuatkan integritas diri, tambah selalu pengetahuan, rapatkan gerakan antikorupsi dengan berjejaring bersama orang-orang baik yang masih peduli pada perjuangan antikorupsi bisa menjadi bagian usaha ASN untuk berjuang melawan korupsi. Saya yakin harapan ini tetap akan menyala sampai kapan pun dan terwujud secara pelan dan pasti. Jika telah terjadi, Indonesia akan terus berseri.

Total Page Visits: 182 - Today Page Visits: 1