ASN Abad 21: Menguasai Dunia Digital

Oleh : Imbran Batelemba Bonde, S. Th

      Dunia sedang berubah. Perubahan ini tidak lepas dari hadirnya internet.Informasi yang dahulu hanya dikuasai oleh kelompok tertentu, sekarang dapat diakses dengan mengandalkan telepon pintar dan sambungan internet. Cukup memasukan kata kunci dan dalam satu kali sentuhan, informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Baik informasi yang berupa teks, suara, atau video, informasi kini diperoleh dengan mudah, juga tergolong murah.

      Media sosial yang kini menjadi populer di hampir semua negara, semakin hari penggunanya semakin bertambah. Sehingga, di masa sekarang, untuk mengetahui informasi seseorang, bisa saja langsung melihat media sosialnya.

      Berbelanja juga sekarang semakin mudah. Kunjungi toko digital yang menyiapkan banyak pilihan, cari dan temukan apa saja barang yang hendak dibeli. Pembayarannya bahkan tidak perlu membuang banyak tenaga, cukup menggunakan telepon pintar. Barang yang dibeli juga akan diantar oleh kurir. Langsung datang ke rumah.

      Platform belajar digital, bukan hanya sekadar wacana lagi. Di Indonesia, kehadiran “Ruangguru” dan “Zenius Education” sudah cukup menjadi bukti. YouTube yang dominasinya semakin tak terhentikan, juga ditaburi dengan video-video yang memukau. Cukup memasukan kata kunci “TED”, maka akan muncul ceramah-ceramah orang hebat di dunia.

      Studi Jeremy Heimans dan Henry Timms memperlihatkan bagaimana manusia abad 21 memiliki kapasitas untuk membuat film, juga uang; untuk menyebar harapan atau gagasan; untuk membangun pergerakan; atau bahkan untuk menyebar ketidakbenaran dengan pengaruh yang cukup besar. Semua terasa lebih muda dari tahun-tahun sebelumnya karena teknologi telah berubah.[1]

      Yang lebih heboh adalah mobil tanpa supir telah dikembangkan oleh Tesla. Dewasa ini, tanpa penguasaan dunia digital dan komputer, lambat laun akan menenggalamkan seseorang. Bukan rahasia lagi, bahwa saat ini, artificial intelligence (kecerdasan buatan) telah berkembang dengan sangat cepat. Pecatur dunia telah kalah di tangan Alphazero, robot yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan.[2] Banyak pekerjaan telah digantikan oleh robot. Semua merasakan dampak ini, termasuk Aparat Sipil Negara (ASN) juga nantinya.

      Corona Virus Diseases 2019 (COVID-19) telah mempercepat proses pembuktian bahwa masih banyak juga ASN yang gagap teknologi. Ini masalah serius. Sehingga terbukti pada saat COVID-19 menghantam kehidupan manusia dan mengharuskan menggunakan platform digital untuk bekerja, pada akhirnya banyak yang kebingungan. Atau, sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.

Belum Terlambat

      Tidak pernah ada kata terlambat dalam belajar. Penulis pernah berjumpa dengan seorang kakek yang begitu semangat belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri. Pak Ahmad namanya. Tidak tanggung-tanggung, kakek tersebut, akan mengikuti test IELTS. Dalam pada itu, ia datang untuk mempersiapkan diri.

      Setiap pagi, ia mengikuti kelas dengan orang yang umurnya jauh dibawahnya. Belum lagi, semua para pengajar di Kampung Inggris, juga berusia muda. Namun, ia tak pernah merasa bahwa ia “lebih” dari para pengajar tersebut, terutama jika terkait dengan Bahasa Inggris.

      Seperti yang dipaparkan sebelumnya, mau atau tidak mau, banyak pekerjaan akan bersentuhan dengan komputer dan internet. Namun, pengalaman penulis di beberapa tempat dan berjumpa dengan beberapa ASN, masih banyak juga yang belum bisa mengoperasikan komputer. Bahkan sekedar membuka Microsoft Word. Secara khusus mereka yang berusia di atas 45 tahun yang sebenarnya tidak lama lagi akan pensiun. Contohnya, saat penulis pernah berbincang dengan salah satu Kepala Sekolah di sebuah desa yang terletak di Kabupaten Poso, yang secara terang-terangan mengakui bahwa ia tidak bisa menggunakan komputer.

      Maka dari itu, tidak ada langkah lain selain belajar dan meningkatkan diri dengan kemampuan baru. Sama seperti Pak Ahmad, yang dalam usia tuanya mau belajar, mengapa tidak para ASN yang ada, diajar dan mengikuti pelatihan. Pelatihan tersebut mencakup penguasaan komputer dasar bagi yang belum mengetahui cara mengoperasikan komputer.

      Selain itu, pelatihan penggunan internet, baik yang menggunakan telepon pintar atau komputer, perlu untuk dilakukan. Penguasaan dalam pemakaian internet juga berfungsi sebagai akses untuk memperoleh sumber yang mendukung pekerjaan, atau sebagai wadah untuk menyebar informasi. Karena ke depannya, sumber dan platform dalam bentuk digital akan semakin mendominasi dan besar pengaruhnya.

      Selanjutnya, agar pelatihan tersebut tidak hanya membuang waktu dan uang, diperlukan sebuah test yang dirancang untuk mengukur kemampuan ASN baik penguasaan komputer, maupun penggunaan platform yang terkait dengan pekerjaannya sehari-hari.

      Ke depan, setelah pandemi berlalu, proses belajar digital tidak bisa dihindarkan lagi. Meski proses belajar tatap muka masih tetap menjadi proses belajar terbaik, namun dalam kondisi tertentu, diperlukan penguasaan komputer dan internet. Dengan mempersiapkan ASN yang mengerti literasi digital, ke depan, bukan hanya proses pekerjaan yang akan terbantu. Mungkin, ke depan akan ada inovasi dalam bidang-bidang tertentu, dan yang menjadi penggagas utama adalah ASN. Setidaknya, Indonesia belum terlambat untuk mempersiapkan dan menyongsong era internet of things.

[1] Jerremy Heimans and Henry Timms, New Power: How Power Works in Our Hyperconnected World—and How to Make It Work for You, (New York: Doubleday, 2108), 1.

[2] Penulis yang cukup sering mengumandangkan hal ini adalah Yuval Noal Harari. Lihat bukunya Yuval Noah Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (Canada: Signal, 2015).

Total Page Visits: 147 - Today Page Visits: 2