Andai Semua Ikut Turun Tangan

Oleh: Rif’at Darajat

Anchor Info BMKG

Hidup memang sejatinya memilih dan dipenuhi dengan berbagai pilihan, meskipun kita terkadang tidak menginginkannya. Entah menjadi orang dengan prinsip yang tegak; atau bahkan menjadi pengikut arus orang lain yang dianggap sebagai panutan; itu semua tentu adalah bagian dari pilihan. Kisah awal tentang bagaimana saya memilih untuk hidup menjadi seorang ASN tidak seheroik guru-guru honorer yang telah mengabdi belasan tahun di pelosok Indonesia dengan keseharian berupa jalanan puluhan kilometer berjenis tanah liat yang berlumpur jika hujan turun atau sungai yang perlu diseberangi dengan menggunakan ketinting maupun sampan untuk menuju ke sekolah tempat mengajar. Bisa dikatakan bahwa menjadi ASN bahkan bukan cita-cita yang pernah saya rencanakan dalam hidup sejak lama. Momentum ketika saya memutuskan menjadi ASN justru terjadi ketika saya sebenarnya sedang jengah dan lelah terhadap birokrasi yang ada di hampir sebagian besar pemerintahan Indonesia.

Tepat 3 tahun silam, saat saya bekerja di salah satu perusahaan swasta, adalah momen perenungan besar bagi saya untuk menentukan jalan hidup ke depan. Bersamaan dengan itu, ingatan saya kembali pada kalimat sambutan Pak Anies Baswedan dalam Operasi Pasca Penugasan (OPP) Pengajar Muda Angkatan IX Gerakan Indonesia Mengajar di awal tahun 2016, yang kemudian menjadi titik balik saya. Cakupan kalimat dari beliau secara garis besar memberikan tawaran tentang setidaknya ada 3 jenis bidang pekerjaan yang bisa menjadi pilihan hidup masing-masing kita, yaitu bekerja di NGO (Non-Governmental Organization) yang dipenuhi dengan ribuan tepuk tangan dan pujian; atau bekerja di swasta dengan profit yang dapat menjamin kelangsungan hidup; atau bekerja di pemerintahan yang dipenuhi dengan jalan mendaki dan penuh caci maki.

Bukan berarti saya tidak memahami resiko ketika kemudian memilih memutuskan untuk menjadi ASN, karena selain pernyataan dari Pak Anies di atas, realita saat saya masih menjadi Pengajar Muda di Kabupaten Paser yang seringkali berkomunikasi dan berkoordinasi dengan dinas pendidikan, bupati, camat serta kepala desa setempat, membuat saya sadar penuh bahwa segala tantangan birokrasi serta kritik dari masyarakat, terutama generasi muda, jelas akan dihadapi sebagai makanan sehari-hari seorang ASN. Namun, sebuah mantra dalam lubuk pikiran saya yang berbunyi “keberanian adalah do’a dari rasa takut” semakin menguatkan saya untuk melangkah. Jika semua orang memilih berdiri di luar dan hanya melakukan kecaman tanpa turut membenahi, lantas siapa yang benar-benar akan melakukan perubahan di dalam?

Bersyukur di dalam kantor tempat saya mengabdi saat ini, saya bertemu dengan orang-orang tepat yang mempunyai banyak ide segar, termasuk semangat positif untuk tetap berjalan, meski beberapa hal yang ada di sekitar masih berjalan di tempat. Tahun 2019, setelah saya resmi menjadi PNS, saya dan dua rekan saya, menjual sebuah ide terkait pengembangan aplikasi prakiraan cuaca dalam sebuah kompetisi HACKBDGWEATHER dan meraih juara dua. Berikutnya, tak ada yang lebih menantang untuk mengikuti kejuaraan serupa, yaitu HACKATHONBMKG dan kembali meraih gelar juara kedua.

Seperti halnya semesta yang selalu menghadirkan pasangan, di balik prestasi-prestasi tersebut, pertentangan batin juga memenuhi kehidupan karir saya di tahun 2019. Saya tergabung dalam sebuah proyek yang melibatkan penyedia barang/jasa internasional, yang dari sanalah saya mengetahui sistem balik layar pemerintahan sebenarnya. Beberapa hal sesusungguhnya tidak sesuai dengan nurani saya, sementara saya juga menyadari bahwa saya tidak bisa berbuat apapun karena usia karir saya bahkan belum genap 2 tahun kala itu. Jangankan kuasa atas hal tersebut, berkomentar pun tidak tahu harus ke mana dan bagaimana.

Ibarat seorang balita yang belum genap berusia 3 tahun saat ini, setidaknya saya sudah memahami apa yang benar dan salah dalam pemerintahan, bagaimana sistem berjalan, serta wawasan saya bertambah seputar apa yang saya lihat dan saya dengar. Tahun-tahun di mana saya perlu beradaptasi dengan lingkungan tempat bekerja telah saya lalui, berikutnya yang tersisa adalah yang dapat dilakukan untuk tetap bergerak dan membawa sedikit demi sedikit perubahan atau setidaknya tetap belajar dengan penuh semangat seperti halnya balita usia 35 bulan.

Benar bahwa saya belum mempunyai kuasa atas segala sesuatu di tubuh pemerintahan saat ini karena usia kerja saya yang masih belia. Namun saya senantiasa percaya mantra lain yang selalu terngiang-ngiang dalam kepala saya yaitu “niatmu yang akan menjagamu”. Andai semua generasi muda dalam tubuh instansi pemerintah tetap bergerak, melakukan kegiatan positif dan saling menguatkan, maka saya percaya bahwa suatu perubahan baik akan terjadi.

Contoh perubahan sederhana yang dapat dilakukan saat ini yaitu menyelesaikan perihal teknis surat menyurat. Banyak kejadian dengan kondisi di mana menerbitkan sebuah surat membutuhkan banyak pintu untuk diketuk berdasarkan pangkat, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah surat bisa berhari-hari. Teknologi modern saat ini menawarkan koreksi secara digital dan dapat dilakukan dalam hitungan detik, begitu pula dengan tanda tangan yang telah tersedia secara elektronik. Surat menyurat pun seharusnya perihal yang mudah, cepat dan bermanfaat untuk keberlanjutan segala kegiatan terkait.

Perubahan teknis dalam hal surat menyurat seolah perihal yang kecil, namun jika membayangkan sebuah bangunan utuh, maka peran masing-masing bata pun sangat diperhitungkan untuk kekokohan serta estetika sebuah bangunan. Andai masing-masing batu bata dalam sebuah bangunan berubah satu per satu menjadi lebih kokoh dan mengkilap, maka bukan tidak mungkin bangunan yang tadinya tidak menyenangkan untuk dilihat, menjadi berkilau suatu saat kelak. Andai semua bata yang telah menjadi tembok, juga terhubung erat dengan pilar dan atap, seperti halnya tubuh pemerintahan dengan berbagai bidang dan fungsi, menjalin hubungan dan koordinasi masif antara satu sama lain, maka cita-cita bersama untuk mewujudkan sistem pemerintahan yang efektif tentu juga akan terwujud. Tak ada lagi ego sektoral, mengajak semua pihak berperan dan turun tangan sebagaimana mestinya. Andai hal tersebut terjadi, tentu pandangan serta tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah juga semakin membaik.

Harapan itu bisa jadi tidak masuk akal bagi orang-orang pesimis, namun bukankah tidak ada salahnya untuk mencoba tetap berusaha dan bergerak bersama. Seperti kalimat yang pernah diucapkan oleh Buya Hamka “Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.” Tidak ada yang tidak mungkin jika semua pihak sama-sama bergerak dan turun tangan, seperti halnya cita-cita para pejuang pra-kemerdekaan yang dahulu kala menghadapi penjajah dan seolah jauh dari apa yang disebut kemerdekaan. (RD)

Total Page Visits: 178 - Today Page Visits: 1